Filed under: international
![]()
Sebenarnya saya sedang lagi males-malesnya nulis. Tapi serangan Israel ke Gaza memaksa saya untuk menulis.
Di saat penderitaan bangsa Palestina berlangsung, timbul pertanyaan; dimana pemimpin negara-negara Arab? Mengapa selama ini Liga Arab hanya menghasilkan kecaman setiap Israel mengobrak-abrik Palestina?
Sebenarnya sudah sejak lama saya melihat bahwa tidak mungkin mengharapkan peran negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar, UEA dan Mesir untuk membantu mengusir Israel dari Palestina. Alasan saya sebagai berikut.
Pertama, Kebanyakan negara-negara di atas berbentuk kerajaan yang sangat mendominasi kehidupan politik, sosial dan ekonomi di negaranya. Kemenangan Hamas yang mewakili kelompok `fundamentalis` Islam akan memberi inspirasi bagi kelompok-kelompok yang menentang system monarki di negara-negara tersebut. Artinya kekuasaan yang nyaris tak terbatasyang dimiliki anggota kerajaan akan ikut terancam (seperti diketahui Islam tidak menginginkan kekuasaan yang diwariskan turun temurun).
Kedua, Arab dan negara-negara teluk lain mempunyai kepentingan ekonomi yang besar dengan Amerika serikat. Bisnis para majikan arab (yang terdiri dari kaum bangsawan) tidak lagi terbatas pada sektor perminyakan, tetapi sudah merambah ke bidang trasnportasi, perbankan, perhotelan, pelabuhan, manufaktur, retail dan banyak lagi. Para taipan arab mempunyai saham yang sangat besar di berbagai perusahaan amerika dan negara barat.
Israel sebagai `wakil` dari Amerika di timur tengah sudah pasti banyak berhubungan dengan para taipan arab mengingat untuk menembus system ekonomi perlu lobi yahudi. Ancaman terhadap Israel secara tidak langsung adalah ancaman juga terhadap gurita bisnis taipan arab. Itulah sebabnya mengapa arab dan beberapa negara teluk mengizinkan negaranya dijadikan pangkalan militer Amerika. Dan itu juga sebabnya mengapa selama ini liga Arab seperti `setengah hati` membantu palestina.
Jadi ? Apakah selamanya kita akan terus melihat palestina dengan pandangan kasihan tanpa mampu berbuat sesuatu yang strategis untuk menolong mereka? Beranikah negara-negara Arab akan bersatu padu menentang Israel?
Pikiran ini membuat saya semakin lelah, sungguh lelah.
Filed under: international

| Israel in ‘all-out war’ with Hamas | |||||
Israel’s military is in an “all-out war” with Hamas in the Gaza Strip, Ehud Barak, the country’s defence minister, has said. Palestinian medical sources say at least 345 Gazans have been killed and another 1,450 wounded in three consecutive days of Israeli bombardment in the heavily-populated territory. “We have nothing against Gaza residents, but we are engaged in an all-out war against Hamas and its proxies,” Barak said on Monday. There were also growing fears that a ground offensive was being planned after Israel declared a ”closed military zone” around the Gaza Strip. Israel says the creation of a buffer zone along the border will help protect it from rocket attacks. Civilians, including journalists, could be banned from an area between 2km and 4km deep under the policy. On previous occasions, such a move has sometimes been followed by military operations. “This operation will expand and deepen as much as needed,” Barak said. “We went to war to deal a heavy blow to Hamas, to change the situation in the south.” Trapped Palestinians Tanks and troops have been massed in the area since the attacks, referred to by the Israeli military as Operation Cast Lead, was launched on Saturday. Al Jazeera’s Ayman Mohyeldin, reporting from Gaza City, said that there was little the residents of Gaza could do to prepare for any possible ground assault.“In a city that is so densely-populated, a ground offensive would mean urban warfare, street-to-street fighting … leaving many Palestinians in the crossfire,” he said. “Unlike other conflict zones where there is the possibility to flee the war zone, Gaza itself has become the war zone. There is nowhere for the population to go, they are in the middle of all these attacks.” Israel said it began pounding the Gaza Strip with missiles fired from warplanes and helicopter gunships in order to halt the rocket and mortar attacks by Palestinian fighters. “Military officials said yesterday that this operation will go on until Hamas stops firing missiles into southern Israel,” Al Jazeera’s Hoda Abdel Hamid, reporting from southern Israel, said. “They are also very much aware that they wouldn’t really be able to stop that, but at least they will try to degrade the capability of Hamas.” Israeli justification Scores of rockets have hit southern Israel since the offensive got under way. On Monday, an Israeli Arab was killed and eight others wounded when one of the missiles hit a construction site in the city of Ashkelon. Speaking to Al Jazeera, Tzipi Livni, the Israeli foreign minister, said the Israeli offensive was aimed at Hamas and not the Palestinian people. “We tried to avoid this. You know that Israel accepted the truce that was initiated by the Egyptians in order to create peace and quiet. We adopted the truce. What we got in return? We got in return daily attacks, we got in return smuggling of weapons to Gaza Strip with long-range [capabilities],” she said. Livni also appealed to Palestinian civilians to leave for safer places within the Gaza Strip and advised them against staying in places close to Hamas infrastructure. Support for Israel came from the US, with the White House saying Hamas must halt cross-border rocket fire. “In order for the violence to stop, Hamas must stop firing rockets into Israel and agree to respect a sustainable and durable ceasefire,” Gordon Johndroe, a White House spokesman said. Ban Ki-Moon, the UN secretary-general, meanwhile, urged Arab and world leaders to press for an end to the violence in the Gaza Strip. Egyptian gesture On Monday, Egyptian authorities allowed ambulances carrying several wounded Palestinians to cross into Egypt through the Rafah border crossing for medical treatment. Hospitals in Gaza have been overwhelmed by casualties since Israel started its aerial blitz on the territory. Egypt also allowed lorries loaded with humanitarian aid to enter its border crossing with the Gaza Strip. Lorries with food and medical supplies have been lining up outside the Egypt-Gaza border since early morning. The UN relief and works agency said on Monday that at least 51 Palestinian civilians, including women and children, were confirmed to be among those killed in the Gaza Strip.
An UNRWA spokesman said the figure, which was based on visits to hospitals and medical centres was “conservative” and “certainly rising”. Four young girls from the same family in the northern town of Jabaliya and two young boy from Rafah were among those killed in the latest raids, Palestinian medics said. Al Jazeera’s Sherine Tadros said the situation at the Shifa hospital in Gaza City was chaotic as the territory’s health system struggled to cope with the more than 1,400 people injured. “Hundreds of people are just waiting outside … the problem is that there simply aren’t enough beds to cope with the number of injured,” she said. “Medical sources here are telling us they are running out of everything, from gauzes to saline solutions, and critically now they are running out of almost every type of blood.” A six-month truce between Israel and Hamas in the Gaza Strip ended on December 19. |
|||||
|
Filed under: politik dan sosial
SAPI
Di ujung utara kota Solo yang berbatasan dengan sragen, terdapat sebuah tempat penampunngan akhir sampah.setiap hari berbukit-bukit sampah diangkut truk-truk berwarna kuning untuk ditimbun di tempat itu. Ketika sampah-sampah itu datang, ratusan pemulung segera menyerbu, persis seperti sekawanan semut menyerbu sirup tumpah. Tapi,Bukan Cuma pemulung yang berpesta mengais rezeki, ada gerombolan-gerombolan lain yang numpang makan. Mereka adalah ratusan ekor sapi. Sapi? Ya, Sapi!
Sapi-sapi itu milik warga sekitar TPA. Keberadaan TPA itu menjadi berkah terselubungbagi warga sekitar, karena sapi-sapi mereka tidak perlu lagi dicarikan pakan rerumputan. Sisa-sisa sampah organic itu yang menjadi santapan mereka sekarang.
Setiap pagi, pemilik-pemilik sapi (yang kira-kira mempunyai sapi dari lima ekor sampai puluhan) menggiring sapinya ke TPA tersebut. Sepanjang hari sapi-sapi itu memakan sampah pasar, sampah rumah tangga bahkan potongan-potongan kertas bekas bungkus makanan. Namun demikian, sapi-sapi itu bisa tumbuh gemuk tanpa asupan gizi yang lain.
Uniknya, meskipun sepanjang hari mereka berbaur dengan kawanan sapi milik rang lain, tapi ketika menjelang sore para pemilik berseru dari atas bukit sampah,” muliih… muliiih!!!(pulang-pulang)”, mereka akan segera berkumpul lagi dengan anggota-anggota sekandang dan mengikuti sang pemilik yang memanggilnya pulang.
Kalau ada sapi lain yang kesasar dan ikutan masuk kandang yang salah(dan ini jarang terjadi), gerombolan sapi sang empu kandang akan menyeruduknya, mengusir sapi tersesat tersebut. Segera kalau ada keributan di kandang di malam hari, pemilik kandang tanggap. Ia akan membuka pintu kandang, menepuk pantat sapi yang tersesat tersebut, lalu berteriak “mulih !” dan sapi malang itu akan pulang ke kandang aslinya.
Tahun 2008 tak terasa hampir kita lewati, tahun 2009 menjelang. Yang terkesan dari tahun ini adalah maraknya baliho, spanduk, bendera dan segala macam atribut kampanye di sembarang tempat. Di puncak pohon tinggi, di samping jalan, di gedung sekolah, bahkan di pinggir kuburan. Politisi-politisi yang akan bertarung di pemilu 2009 itulah yang menghambur-hamburkan uang untuk mencari dukungan public agar memilih mereka. Itulah cara mereka ‘menjual diri’ mereka.
Yang paling sering adalah mereka melempar isu-isu normative: ‘Bekerja untuk rakyat!’ atau ‘berjuang demi rakyat!’ dan sebagainya. Ada juga yang mengekor Barrack Obama, ‘ Change we can believe in !’, ‘ saatnya untuk berubah!’, waktunya perubahan!’,Mari kita berubah!’ dan seterusnya.
Kadang-kadang ada juga yang lupa ejaan bahasa yang disempurnakan (atau mungkin salah cetak): ‘Jangan terpancing propokasi !’
Lalu, yang lain lagi merasa mewakili orang-orang di daerahnya dengan slogan,” bersama rakyat anu memajukan daerah anu…!” atau ‘putra asli daerah anu..!” bahkan ada juga tulisan,” alumni SMP anu dan Sma anu!”
Tak ada yang tahu pasti apakah mereka benar-benar seperti yang mereka tuliskan. Yang pasti kota dan desa kita tambah marak. Tidak peduli banyaknya atribut kampanye itu malah membuat suasana makin semrawut. Dapat juga dipastikan bahwa orang makin bingung dan tidak ingat lagi siapa-siapa saja wajah yang terpampang di baliho atau spanduk tersebut.
Kita ini penganut sejati budaya instant. Meskipun katanya itu bukan budaya asli timur alias dari barat, tapi sepertinya kita lebih barat dari mereka yang di barat.Ada mendadak dangdut, mendadak penyanyi, dan sekarang mendadak politisi. Yang ibu-ibu tanpa kompetensi ikutan jadi caleg hanya untuk memenuhi kuota 30% perempuan. Yang preman dengan pelototannya berhasil juga masuk bursa caleg. Pun dengan artis dan selebritis yang tidak mau ketinggalan trend. Sebagai pemanis mereka tawarkan isu ‘ Berjuang untuk rakyat!’ atau demi wong cilik!”
Sementara jutaan orang bertanya-tanya, apakah mereka tahu benar tentang konsep pembelaan mereka terhadap `wong cilik`, kaum `dhuafa’ atau `kelas proletar`. Apakah mereka juga tahu bagaimana menyusun kata-kata di Undang-Undang yang bisa memakmurkan negeri ini? Apakah mereka mengerti benar budaya dan sosiologi masyarakat Indonesia? Dan sederet pertanyaan lainnya.
Jangan-jangan kita ini diibaratkan sapi di TPA seperti dalam cerita di atas. Kalau saatnya tiba mereka memanggil-manggil kita dari menara gading. Mengharapkan kita ‘pulang kandang’ sesuai dengan ideology dan afiliasi politik masing-masing. Kemudian untuk sementara waktu dikandangkan dan diberi tempat istirahat yang nyaman. Kemudian jika semua sudah selesai, mereka bawa kita lagi ke tempat penampungan sampah dan membiarkan kita mencari makan di sana! Walah lha kok kelewatan.
Susah benar jadi orang kecil. Kita ada kalau mereka menginginkan kita ada. Dan jika mereka menginginkan kita tidak ada, ya kita tidak ada. Politisi dadakan itu merasa sekarang kita harus ada untuk membuat mereka ada dan berada. Setelah itu adakah kita?
Jadi, apakah lebih baik kita biarkan saja mereka berteriak-teriak “Muliiih! Muliiih!” sampai suaranya habis tanpa kita pedulikan. Dengan begitu tiba saatnya mereka akan sadar dan berkata,” ternyata aku tidak punya sapi…”
PILIHLAH dengan Bijak. Karena kita bukan Sapi
Filed under: politik dan sosial

SEPATU
Entah apa yang sedang terlintas dalam pikiran Muqtada Al-Zaidi ketika ia melemparkan sepasang sepatunya ke muka George Walker Bush. Mungkin ia sedang mengungkapkan kemarahan sebagian besar rakyat Irak terhadap politik ofensif Bush yang telah menghancurkan seluruh sendi kehidupan masyarakat Irak. Mungkin juga ia sedang tidak nyaman dengan sepatu barunya yang kekecilan atau berasa gatal. Lalu waktu itu ia sedang bosan-bosannya mendengarkan pidato propaganda Bush yang menyatakan kemenangan ‘Demokrasi’ telah diraih di Irak, ia sambit Bush dengan sepatu itu. Untung Bush pernah aktif di perkumpulan Soft Ball di Yale, jadi ia dengan sigap juga berhasil menghindar dari ‘bom kulit’ itu.
Sepatu bagi budaya arab mewakili symbol derajat yang rendah. Menunjukkan sepatu ke muka orang lain, berarti ia menganggap orang tersebut mempunyai derajat yang rendah, apalagi menyambitnya.
Tapi bukan berarti Bush tidak layak mendapat pujian. Pujian pertama, gerak refleksnya masih bagus. Yang kedua adalah komentarnya mengenai insiden tersebut. Menurutnya, hal itu wajar saja. “Dalam dunia yang demokratis, itu seperti kita turun ke jalan untuk berunjuk rasa…” katanya. Komentar yang wajar bagi seorang politisi ulung yang ahli memanipulasi setiap input.
Bagi Bush, mungkin momen tadi menegaskan kebenaran kata-katanya tentang berhasilnya intervensi untuk menjalankan demokrasi di Irak.” Lha, orang bisa nyambit gue…!” walaupun dalam hatinya ia mengumpat,”Guantanamo tau rasa, Lu!”
Pujian segera mengalir bagi Zaidi, baik dari dunia Islam yang selama ini banyak dirugikan oleh kebijakan Bush demi melindungi Israel dan demi ideology kapitalisnya, bahkan dari pemimpin Negara-negara amerika Selatan. Hugo Chaves yang sudah lama jadi mush Bush berkomentar,” Zaidi seorang yang pemberani !”
Chaves mungkin geram juga dengan Bush. Seperti di ketahui, Bush dengan berbagai macam cara berusaha mengacak-acak stabilitas kawasan Amerika selatan. Dengan mengadu domba Kolombia (sekutu amerika) dengan Negara-negara tetangganya, misalnya. Bahkan diwaktu lalu penyerbuan-penyerbuan rahasia untuk mengkudeta pemimpin amerika selatan sering dilakukan Amerika.
Seperti kita ketahui juga, Amerika latin banyak dikuasai oleh rezim sosialis yang menjadi penghalang bagi kapitalisme, terlebih setelah terjadi nasionalisasi asset-aset perusahaan minyak asing oleh evo morales di Bolivia. Bush sang tentara kapitalsi tentu saja tidak mau hal itu terjadi. Jadi, dengan segala cara ia berusaha untuk mengontrol kebijakan-kebijakan Negara Amerika Selatan walaupun dengan cara-cara yang kotor khas kolonialis.
Karena itu tidak heran jika pemimpin-pemimpin Amerika selatan geregetan kepada Amerika. Mungkin jika bisa, Hugo Chaves sendiri mau melemparkan sepatunya ke muka Bush. Reaksi Bush ? Ia akan terkekeh mengejek,” Rudal aantar benua aja gue rontokin. Apalagi sepatu butut, LU! Ciaat ! Haiyya !
Filed under: politik dan sosial
Alengka terdesak ! Pasukan kera pimpinan Rama merangsek jauh ke dalam wilayah Alengka. Panglima-panglima perang Rahwana bertumbangan. Harapan kemenangan Rahwana kini ditujukan kepada Kumbakarna setelah Gunawan Wibisana berkhianat dengan menyeberang ke pihak Rama. Namun Kumbakarna orang yang susah. Dalam debat sebelumnya, Kumbakarna menyalahkan Rahwana dalam konflik bilateral itu karena telah menculik Sinta.
Untuk terakhir kalinya, Kumbakarna dipanggil ke Istana. Rahwana kembali membujuk adiknya itu untuk berperang. Kali inipun Kumbakarna menolak. Penuh murka Rahwana berorasi di depan Kumbakarna. Ia mempertanyakan nasionalisme Kumbakarna. Menurut Rahwana, Kumbakarna tidak cukup memperlihatkan rasa terima kasih kepada tanah airnya dengan menghindari tanggung jawab untuk menjaga negaranya. Untuk lebih meyakinkan Kumbakarna, Rahwana memperlihatkan kerusakan-kerusakan yang diakibatkan serbuan bala tentara Rama.
Orasi Rahwana menemui hasilnya. Seketika bangkit rasa nasionalisme Kumbakarna. Ia mau pergi berperang demi tanah airnya. Menurut Kumbakarna ia berperang bukan untuk membela kakaknya, tapi membela negaranya. “Right or wrong is my country”.
Demi ideologinya itu kumbakarna berperang dengan gagah berani. Ia tidak mundur ketika tangannya putus dibabat panah Rama. Pun demikian ketika kakinya ikut terbabat. Ia tetap berperang meskipun hanya mengandalkan gigitannya. Akhirnya, Kumbakarna gugur. Semua orang mengenangnya sebagai pahlawan dan ksatria, bahkan musuh-musuhnya. Kumbakarna direpresentasikan sebagai perwujudan ksatria sejati pembela tanah airnya, pembela ideologi nasionalisme yang diyakininya.
Beberapa waktu yang lalu di depan KTT APEC Presiden Amerika Serikat, George W Bush berorasi mengenai solusi krisis keuangan global yang telah menyeret dunia dalam resesi. Menurutnya, kita tidak boleh meninggalkan pasar bebas. Ia juga mengkhawatirkan sikap negara-negara lain untuk memproteksi impor. Lebih lanjut, Bush juga menyatakan bahwa krisis ekonomi dunia bukan merupakan akibat dari pasar bebas yang merupakan perwujudan dari kapitalisme.
Bush rupanya lupa bahwa sebagian besar masalah dunia dewasa ini diakibatkan oleh derasnya globalisasi dan kapitalisme yang diwujudkan melalui pasar bebas. Pemiskinan di dunia ketiga, penguasaan aset-aset publik oleh swasta sampai merebaknya mafia-mafia ekonomi yang terdiri dari spekulan-spekulan bursa efek, mafia peradilan, mafia politik dan bahkan mafia budaya.
Ia tidak sadar (mungkin tepatnya tidak mau tahu) bahwa kapitalisme dan globalisasi telah menggiring dunia menuju jurang ketidak- adilan yang menganga. Dalam hal ini ia sedang mempraktekkan skenario lama, ‘the survival of the fittest’, suatu natural selection yang tidak adil, karena menyingkirkan peri kemanusiaan dalam persaingan. Akibatnya, menurut Marx, kaum proletar jadi sasaran penghisapan kaum Borjuis. Bahkan bangsa proletar diikat dan dijadikan perahan negara Borjuis.
Stiglitz mengatakan bahwa dunia akan lebih sejahtera dengan globalisasi. Yang terpenting, menurutnya adalah membuat seperangkat peraturan yang mengarahkan globalisasi yang dikuasai oleh kapitalisme ini menuju kemakmuran dunia .1 Tapi masalahnya, apakah kaum kapitalis bisa diikat oleh peraturan-peraturan yang akan membatasi gerak langkahnya ?
Sesuai dengan prinsip kapitalis, hal terpenting dalam persaingan adalah penguasaan fakor-faktor produksi. Dalam skala yang lebih luas, pengertian faktor produksi tidak bisa lagi dilihat dari definisi klasik seperti modal, tenaga kerja, mesin, tanah dan lain-lain tetapi juga telah merambah kepada faktor yang selama ini di luar ‘lingungan pabrik’ seperti kebijakan politik dan penguasaan terhadap budaya.
Bagaimana suatu kebijakan publik bisa menguntungkan dan mendukung tidak hanya kesinambungan, tetapi juga ekspansi usaha. Untuk itu mereka berusaha mempengaruhi pembentukan kebijakanpublik melalui proses-proses politik. Dalam skala Indonesia, kita melihat bahwa kaum kapitalis telah berhasil memaksa pemerintah untuk membuat kebijakan-kebijakan mereka. Indikasi itu terlihat dari tertngkapnya beberapa anggota DPR dalam pengalihan hutan lindung di Tanjung Si Api-Api dan Bintan, kasus cek pelawat dalam penentuan Deputi Gubernur BI sampai privatisasi sektor-sektor publik seperti penyusunan UU air.
Dalam bidang kebudayaan, globalisasi berarti ‘Uniformisasi kebudayaan’. Dunia diarahkan untuk berada dalam: Satu politik, satu ekonomi, satu kebudayaan, satu resiko. Tidak ada alternatif!2
Globalisasi budaya berarti terciptanya pasar baru bagi industri sehingga korporasi multinasional menangguk untung berlipat ganda. Namun akibatnya adalah tertindasnya kebudayaan lokal. Bagaimana tata kota dunia timur sekarang telah dikuasai oleh reklame-reklame raksasa dan lautan mall yang mematikan pasar tradisonal. Bagaimana budaya memasak telah tersingkirkan oleh budaya fast food dan coca cola dan sebagainya. Bagaimana penanaman nilai-nilai kemanusiaan telah digantikan oleh konstruksi manusia menurut Sigmund Freud dan Niccolo Macchiavelli sehingga manusia dunia mementingkan pemuasaan nafsu dan menempuh segala cara demi tercapai tujuan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin membuat kapitalisme untuk ‘berlaku seperti anak manis dan penurut’ karena ia bukan lagi obyek dari kebijakan, tetapi telah berubah menjadi subyek dominan yang menentukan kebijakan. Kapitalisme global adalah ‘anak bengal’ yang ingin mendikte orang tuanya agar menuruti segala kemauannya.
Bush berdiri di garda paling depan dalam usaha membela ideologi yang diyakininya itu. Ia perlu menyuarakan suara ‘si anak bengal’ meskipun si anak bengal telah mengakibatkan pebderitaan bagi ibu kandungnya sendiri. Bush berusaha menutupi kegagalan kapitalisme itu, dengan sekali lagi mengucurkan dana pembayar pajak untuk membailout korporasi sembari menyarankan negara-negara lain untuk mengikutinya juga. Bush mungkin lupa bahwa langkah itu berarti melanggar prinsip neo liberalisme yang ia anut.
Seperti kumbakarna yang berjuang gagah berani, Bush menjadi ‘ksatria’ bagi ideologinya. Ia bersedia menjadi martir demi apa yang diyakininya. Itulah kesaktian ideologi. Kalau Kumbakarna kemudian dianggap pahlawan demi ideologinya itu, apakah hal yang sama akan terjadi pada George W Bush? Wallahu a`lam



