Filed under: politik dan sosial
Alengka terdesak ! Pasukan kera pimpinan Rama merangsek jauh ke dalam wilayah Alengka. Panglima-panglima perang Rahwana bertumbangan. Harapan kemenangan Rahwana kini ditujukan kepada Kumbakarna setelah Gunawan Wibisana berkhianat dengan menyeberang ke pihak Rama. Namun Kumbakarna orang yang susah. Dalam debat sebelumnya, Kumbakarna menyalahkan Rahwana dalam konflik bilateral itu karena telah menculik Sinta.
Untuk terakhir kalinya, Kumbakarna dipanggil ke Istana. Rahwana kembali membujuk adiknya itu untuk berperang. Kali inipun Kumbakarna menolak. Penuh murka Rahwana berorasi di depan Kumbakarna. Ia mempertanyakan nasionalisme Kumbakarna. Menurut Rahwana, Kumbakarna tidak cukup memperlihatkan rasa terima kasih kepada tanah airnya dengan menghindari tanggung jawab untuk menjaga negaranya. Untuk lebih meyakinkan Kumbakarna, Rahwana memperlihatkan kerusakan-kerusakan yang diakibatkan serbuan bala tentara Rama.
Orasi Rahwana menemui hasilnya. Seketika bangkit rasa nasionalisme Kumbakarna. Ia mau pergi berperang demi tanah airnya. Menurut Kumbakarna ia berperang bukan untuk membela kakaknya, tapi membela negaranya. “Right or wrong is my country”.
Demi ideologinya itu kumbakarna berperang dengan gagah berani. Ia tidak mundur ketika tangannya putus dibabat panah Rama. Pun demikian ketika kakinya ikut terbabat. Ia tetap berperang meskipun hanya mengandalkan gigitannya. Akhirnya, Kumbakarna gugur. Semua orang mengenangnya sebagai pahlawan dan ksatria, bahkan musuh-musuhnya. Kumbakarna direpresentasikan sebagai perwujudan ksatria sejati pembela tanah airnya, pembela ideologi nasionalisme yang diyakininya.
Beberapa waktu yang lalu di depan KTT APEC Presiden Amerika Serikat, George W Bush berorasi mengenai solusi krisis keuangan global yang telah menyeret dunia dalam resesi. Menurutnya, kita tidak boleh meninggalkan pasar bebas. Ia juga mengkhawatirkan sikap negara-negara lain untuk memproteksi impor. Lebih lanjut, Bush juga menyatakan bahwa krisis ekonomi dunia bukan merupakan akibat dari pasar bebas yang merupakan perwujudan dari kapitalisme.
Bush rupanya lupa bahwa sebagian besar masalah dunia dewasa ini diakibatkan oleh derasnya globalisasi dan kapitalisme yang diwujudkan melalui pasar bebas. Pemiskinan di dunia ketiga, penguasaan aset-aset publik oleh swasta sampai merebaknya mafia-mafia ekonomi yang terdiri dari spekulan-spekulan bursa efek, mafia peradilan, mafia politik dan bahkan mafia budaya.
Ia tidak sadar (mungkin tepatnya tidak mau tahu) bahwa kapitalisme dan globalisasi telah menggiring dunia menuju jurang ketidak- adilan yang menganga. Dalam hal ini ia sedang mempraktekkan skenario lama, ‘the survival of the fittest’, suatu natural selection yang tidak adil, karena menyingkirkan peri kemanusiaan dalam persaingan. Akibatnya, menurut Marx, kaum proletar jadi sasaran penghisapan kaum Borjuis. Bahkan bangsa proletar diikat dan dijadikan perahan negara Borjuis.
Stiglitz mengatakan bahwa dunia akan lebih sejahtera dengan globalisasi. Yang terpenting, menurutnya adalah membuat seperangkat peraturan yang mengarahkan globalisasi yang dikuasai oleh kapitalisme ini menuju kemakmuran dunia .1 Tapi masalahnya, apakah kaum kapitalis bisa diikat oleh peraturan-peraturan yang akan membatasi gerak langkahnya ?
Sesuai dengan prinsip kapitalis, hal terpenting dalam persaingan adalah penguasaan fakor-faktor produksi. Dalam skala yang lebih luas, pengertian faktor produksi tidak bisa lagi dilihat dari definisi klasik seperti modal, tenaga kerja, mesin, tanah dan lain-lain tetapi juga telah merambah kepada faktor yang selama ini di luar ‘lingungan pabrik’ seperti kebijakan politik dan penguasaan terhadap budaya.
Bagaimana suatu kebijakan publik bisa menguntungkan dan mendukung tidak hanya kesinambungan, tetapi juga ekspansi usaha. Untuk itu mereka berusaha mempengaruhi pembentukan kebijakanpublik melalui proses-proses politik. Dalam skala Indonesia, kita melihat bahwa kaum kapitalis telah berhasil memaksa pemerintah untuk membuat kebijakan-kebijakan mereka. Indikasi itu terlihat dari tertngkapnya beberapa anggota DPR dalam pengalihan hutan lindung di Tanjung Si Api-Api dan Bintan, kasus cek pelawat dalam penentuan Deputi Gubernur BI sampai privatisasi sektor-sektor publik seperti penyusunan UU air.
Dalam bidang kebudayaan, globalisasi berarti ‘Uniformisasi kebudayaan’. Dunia diarahkan untuk berada dalam: Satu politik, satu ekonomi, satu kebudayaan, satu resiko. Tidak ada alternatif!2
Globalisasi budaya berarti terciptanya pasar baru bagi industri sehingga korporasi multinasional menangguk untung berlipat ganda. Namun akibatnya adalah tertindasnya kebudayaan lokal. Bagaimana tata kota dunia timur sekarang telah dikuasai oleh reklame-reklame raksasa dan lautan mall yang mematikan pasar tradisonal. Bagaimana budaya memasak telah tersingkirkan oleh budaya fast food dan coca cola dan sebagainya. Bagaimana penanaman nilai-nilai kemanusiaan telah digantikan oleh konstruksi manusia menurut Sigmund Freud dan Niccolo Macchiavelli sehingga manusia dunia mementingkan pemuasaan nafsu dan menempuh segala cara demi tercapai tujuan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin membuat kapitalisme untuk ‘berlaku seperti anak manis dan penurut’ karena ia bukan lagi obyek dari kebijakan, tetapi telah berubah menjadi subyek dominan yang menentukan kebijakan. Kapitalisme global adalah ‘anak bengal’ yang ingin mendikte orang tuanya agar menuruti segala kemauannya.
Bush berdiri di garda paling depan dalam usaha membela ideologi yang diyakininya itu. Ia perlu menyuarakan suara ‘si anak bengal’ meskipun si anak bengal telah mengakibatkan pebderitaan bagi ibu kandungnya sendiri. Bush berusaha menutupi kegagalan kapitalisme itu, dengan sekali lagi mengucurkan dana pembayar pajak untuk membailout korporasi sembari menyarankan negara-negara lain untuk mengikutinya juga. Bush mungkin lupa bahwa langkah itu berarti melanggar prinsip neo liberalisme yang ia anut.
Seperti kumbakarna yang berjuang gagah berani, Bush menjadi ‘ksatria’ bagi ideologinya. Ia bersedia menjadi martir demi apa yang diyakininya. Itulah kesaktian ideologi. Kalau Kumbakarna kemudian dianggap pahlawan demi ideologinya itu, apakah hal yang sama akan terjadi pada George W Bush? Wallahu a`lam
Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar