Abiaulya’s Blog


17/12/2008, 3:21 am
Filed under: politik dan sosial

SAPI

Di ujung utara kota Solo yang berbatasan dengan sragen, terdapat sebuah tempat penampunngan akhir sampah.setiap hari berbukit-bukit sampah diangkut truk-truk berwarna kuning untuk ditimbun di tempat itu. Ketika sampah-sampah itu datang, ratusan pemulung segera menyerbu, persis seperti sekawanan semut menyerbu sirup tumpah. Tapi,Bukan Cuma pemulung yang berpesta mengais rezeki, ada gerombolan-gerombolan lain yang numpang makan. Mereka adalah ratusan ekor sapi. Sapi? Ya, Sapi!

Sapi-sapi itu milik warga sekitar TPA. Keberadaan TPA itu menjadi berkah terselubungbagi warga sekitar, karena sapi-sapi mereka tidak perlu lagi dicarikan pakan rerumputan. Sisa-sisa sampah organic itu yang menjadi santapan mereka sekarang.

Setiap pagi, pemilik-pemilik sapi (yang kira-kira mempunyai sapi dari lima ekor sampai puluhan) menggiring sapinya ke TPA tersebut. Sepanjang hari sapi-sapi itu memakan sampah pasar, sampah rumah tangga bahkan potongan-potongan kertas bekas bungkus makanan. Namun demikian, sapi-sapi itu bisa tumbuh gemuk tanpa asupan gizi yang lain.

Uniknya, meskipun sepanjang hari mereka berbaur dengan kawanan sapi milik rang lain, tapi ketika menjelang sore para pemilik berseru dari atas bukit sampah,” muliih… muliiih!!!(pulang-pulang)”, mereka akan segera berkumpul lagi dengan anggota-anggota sekandang dan mengikuti sang pemilik yang memanggilnya pulang.

Kalau ada sapi lain yang kesasar dan ikutan masuk kandang yang salah(dan ini jarang terjadi), gerombolan sapi sang empu kandang akan menyeruduknya, mengusir sapi tersesat tersebut. Segera kalau ada keributan di kandang di malam hari, pemilik kandang tanggap. Ia akan membuka pintu kandang, menepuk pantat sapi yang tersesat tersebut, lalu berteriak “mulih !” dan sapi malang itu akan pulang ke kandang aslinya.

Tahun 2008 tak terasa hampir kita lewati, tahun 2009 menjelang. Yang terkesan dari tahun ini adalah maraknya baliho, spanduk, bendera dan segala macam atribut kampanye di sembarang tempat. Di puncak pohon tinggi, di samping jalan, di gedung sekolah, bahkan di pinggir kuburan. Politisi-politisi yang akan bertarung di pemilu 2009 itulah yang menghambur-hamburkan uang untuk mencari dukungan public agar memilih mereka. Itulah cara mereka ‘menjual diri’ mereka.

Yang paling sering adalah mereka melempar isu-isu normative: ‘Bekerja untuk rakyat!’ atau ‘berjuang demi rakyat!’ dan sebagainya. Ada juga yang mengekor Barrack Obama, ‘ Change we can believe in !’, ‘ saatnya untuk berubah!’, waktunya perubahan!’,Mari kita berubah!’ dan seterusnya.

Kadang-kadang ada juga yang lupa ejaan bahasa yang disempurnakan (atau mungkin salah cetak): ‘Jangan terpancing propokasi !’

Lalu, yang lain lagi merasa mewakili orang-orang di daerahnya dengan slogan,” bersama rakyat anu memajukan daerah anu…!” atau ‘putra asli daerah anu..!” bahkan ada juga tulisan,” alumni SMP anu dan Sma anu!”

Tak ada yang tahu pasti apakah mereka benar-benar seperti yang mereka tuliskan. Yang pasti kota dan desa kita tambah marak. Tidak peduli banyaknya atribut kampanye itu malah membuat suasana makin semrawut. Dapat juga dipastikan bahwa orang makin bingung dan tidak ingat lagi siapa-siapa saja wajah yang terpampang di baliho atau spanduk tersebut.

Kita ini penganut sejati budaya instant. Meskipun katanya itu bukan budaya asli timur alias dari barat, tapi sepertinya kita lebih barat dari mereka yang di barat.Ada mendadak dangdut, mendadak penyanyi, dan sekarang mendadak politisi. Yang ibu-ibu tanpa kompetensi ikutan jadi caleg hanya untuk memenuhi kuota 30% perempuan. Yang preman dengan pelototannya berhasil juga masuk bursa caleg. Pun dengan artis dan selebritis yang tidak mau ketinggalan trend. Sebagai pemanis mereka tawarkan isu ‘ Berjuang untuk rakyat!’ atau demi wong cilik!”

Sementara jutaan orang bertanya-tanya, apakah mereka tahu benar tentang konsep pembelaan mereka terhadap `wong cilik`, kaum `dhuafa’ atau `kelas proletar`. Apakah mereka juga tahu bagaimana menyusun kata-kata di Undang-Undang yang bisa memakmurkan negeri ini? Apakah mereka mengerti benar budaya dan sosiologi masyarakat Indonesia? Dan sederet pertanyaan lainnya.

Jangan-jangan kita ini diibaratkan sapi di TPA seperti dalam cerita di atas. Kalau saatnya tiba mereka memanggil-manggil kita dari menara gading. Mengharapkan kita ‘pulang kandang’ sesuai dengan ideology dan afiliasi politik masing-masing. Kemudian untuk sementara waktu dikandangkan dan diberi tempat istirahat yang nyaman. Kemudian jika semua sudah selesai, mereka bawa kita lagi ke tempat penampungan sampah dan membiarkan kita mencari makan di sana! Walah lha kok kelewatan.

Susah benar jadi orang kecil. Kita ada kalau mereka menginginkan kita ada. Dan jika mereka menginginkan kita tidak ada, ya kita tidak ada. Politisi dadakan itu merasa sekarang kita harus ada untuk membuat mereka ada dan berada. Setelah itu adakah kita?

Jadi, apakah lebih baik kita biarkan saja mereka berteriak-teriak “Muliiih! Muliiih!” sampai suaranya habis tanpa kita pedulikan. Dengan begitu tiba saatnya mereka akan sadar dan berkata,” ternyata aku tidak punya sapi…”

PILIHLAH dengan Bijak. Karena kita bukan Sapi


Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.